![]() |
| Rapat FWBKS |
Sumantri mengatakan, setiap RW
masing-masing mempunyai bank sampah. RW 005 bank sampah Sadar Asri, RW 018 bank
sampah EcoCare18, RW 020 bank sampah
Warna Sari, RW 021 bank sampah Kemuning, RW 025 bank sampah Bersih Bersama, dan
RW 031 bank sampah Sumber Sari.
Terkait petugas atau pengurus
bank sampah, dikatakan setiap RW mempunyai petugas masing-masing. Disebutkan,
untuk RW 025 bank sampah Bersih Bersama: Ketua Ibu Kasmiatun, Sekretaris Ibu
Winarni, Anggota Bapak Badawi, Ikna dan Mohamad Sangsang.
Bank sampah menerima semua
sampah anorganik yang bisa didaur ulang. Seperti kardus/kertas, botol/galon air
mineral bekas, kantong plastik, botol
beling, styrofoam, besi, logam dan lain-lain.
“Setiap RW melakukan
penimbangan dan pencatatan sampah dari warga satu kali dalam seminggu. Misalnya,
kami di RW 025 melakukan penimbangan setiap Rabu pagi sampai selesai. Kemudian,
penimbangan dan pencatatan dari RW lain
yang dipusatkan di RW 025 dilakukan satu kali dalam dua minggu, selanjutnya
langsung diambil petugas Bank Sampah Induk (BSI) di Legok,” kata Sumantri.
Ketika ditanya, bagaimana animo
atau respon warga atas bank sampah tersebut, Sumantri mengatakan animo
masyarakat semakin meningkat dan tanggapannya sangat positif di lingkungan Kelurahan Bencongan. Terbukti,
awalnya bank sampah hanya di FWBKS, sekarang juga ikut RW tetangga sehingga ada
11 RW punya bank sampah di Kelurahan Bencongan. Namun dikatakan, masih 7 yang
aktif karena 4 baru terbentuk. Sudah aktif FWBKS ditambah RW 002 bank sampah
Samadidu (Asal Mau Jadi Duit).
![]() |
| Penimbangan sampah di RW 025 sebelum ke BSI |
“Setiap pengiriman terjadi peningkatan progress. Pengiriman I tercatat 224 kg sampah daur ulang dengan keterlibatan warga 72 KK, pengiriman II tercatat 577 kg keterlibatan warga 191 KK dan pengiriman III tercatat 688 kg dengan keterlibatan warga 268 KK. Bila 11 RW bank sampahnya sudah aktif diharapkan bisa 1 ton lebih sampah daur ulang per dua minggu dengan perkiraan keterlibatan warga lebih dari 500 KK,” ujar Sumantri.
Menurut pengakuan Sumantri bahwa kegiatan bank sampah oleh warga tersebut sangat didukung Lurah Bencongan, Bai Subiat dan Camat Kelapa Dua, Dadang Sudrajat. Dan diharapkan supaya Lurah mengimbau semua RW di Kelurahan Bencongan ikut membentuk bank sampah. Demikian juga hendaknya Camat mengajak semua Desa/Kelurahan di Kecamatan Kelapa Dua untuk membentuk bank sampah.
Kemudian Sumantri mengemukakan, pihaknya juga mempunyai program ke depan bagaimana untuk mengolah sampah organik menjadi kompos. Tentu saja membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk pengadaan alat perlengkapan. Sebut saja tong komposter, sekop, garuk, obat-obatan untuk pembusukan dan menghilangkan bau busuk
Memang sudah saatnya warga
masyarakat sadar tidak hanya membuang
sampah pada tempatnya, tetapi juga mau memilah dan memilih
sampah yang dihasilkan. Memisahkan sampah organik dan anorganik, kemudian
memilih sampah yang daur ulang.
Selain menjaga kebersihan
lingkungan dan mengurangi beban sampah diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) pengelolaan
sampah anorganik daur ulang dan sampah organik jadi kompos juga dapat menambah
pendapatan masyarakat.
Maka tidak berlebihan, bila Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Tangerang segera turun tangan memberikan perhatian dan dukungan demi kemajuan kegiatan bank sampah yang dibentuk masyarakat. Danu/Gaol


Komentar
Posting Komentar